GOD

gsjanazareth.blogspot.com


counter

Sabtu, 17 September 2016

HASIL DARI UJIAN PENCOBAAN DI PADANG GURUN




Matius 4: 1-11 bnd ulangan 6:1-25
Oleh : Pdt. Jery Adoe, S.Th

1 Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.
2  Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.
3  Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."
4  Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."
5  Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah,
6  lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."
7  Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"
8  Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,
9  dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku."
10  Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"
11  Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.

PENDAHULUAN : cerita ini sedikit mirip dengan sejarah orang Israel dipadang gurun dan Ulangan 6:1-25, kalau orang Israel diuji di padan Gurun selam 40 tahun gagal, maka Yesus juga sama diuji dan diconbai di padang Gurun, namun Yesus menang saat diuji.

I.     UJIAN MELAHIRKAN STATUS SEBAGAI ANAK TUHAN YANG SEJATI (ay. 3)
3  Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."
4  Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."

Dua kali muncul kata Jika Engkau “Anak Allah”. Di sini status Anak Allah dan keAllahannya diuji. Demikian dengan Anak-anak Allah, yakni semua orang percaya, setiap persoalan dan tantangan serta ujian harusnya menjadikan kita menjadi anak-anak Tuhan yang sejati, dan bukan “anak setan” atau anak anak dunia
                  Banyak orang saat diuji dia tidak menunjukkan diri sebagai anak Tuhan. Misalnya. Waktu kita ada di jalan hampir keserempet kita maki maki orang dan sebagainya. Banyak orang waktu statusnya sebagai anak Tuhan diuji hanya melahirkan kehidupan yang berbeda yakni menjadi “preman”
      Banyak kali waktu atau saat kita diuji dalam sebuah kehidupan, banyak kali kita kehilangan status sebagai anak Tuhan. Kehidupan kita menjadi sama seperti anak dunia. Contoh orang dunia jual diri karena tidak makan, kita juga jual diri karena alasan yang sama yakni kita tidak punya makan, orang lain korupsi, kita pun turut melakukan karena kita anggap kita mau hidup dari apa kalau tidak korupsi. dsb

II.  UJIAN MELAHIRKAN KEHIDUPAN YANG SEJATI YANG SESUAI DENGAN FIRMAN ALLAH (ay. 4)

3  Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."
4  Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."

Saat Yesus dicobai dengan berbagai hal, yang timbul dari peristiwa itu adalah kehidupan yang didasarkan kepada Firman Allah. 3 kali Dia diuji selalu Tuhan Yesus mengutip Firman Allah dengan berkata : “ada tertulis”.
Anak Tuhan sejati akan diuji dengan banyak hal seperti “kelaparan “ dan kekurangan, dan sebagainya.  harusnya hal itu tidak akan menghilangkan statusnya sebagai anak Tuhan sejati, namun justur muncul kehiduapan yang berbeda yakni kehidupan spiritual yang sejati karena manusia hidup bukan dari roti sja tetapi dari firmana Allah
Bukankah hal ini yang harus terjadi saat kita ada dalam ujian kehidupan. Kita bias melihat keadaan yang disekliling kita, banyak kali waktu mereka diuji bukan Firman Allah jadi ukuran, tetapi justru pengalaman, logika, hukum dunia yang menjadi standar KEHIDUPAN.
                      
III.          UJIAN MELAHRIRKAN KEHIDUPAN ROHANI YANG SEJATI YAKNI IMAN YANG SEJATI (bnd Ulangan 6:16, Keluaran 17:1-7, khusus ayat 7)

5  Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah,
6  lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."
7  Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"

Kata Jangan Mencoba Allahmu pertama muncul di (keluaran 17:7), dan kata : Jangan mencobai Tuhan Allahmu sepeti di Masa dan Meriba. Ada apa dengan rupanya Alkitab mengatakan demikian, karena di sana orang Israel bukan hanya mereka bertengkar denngan Tuhan di sana, dan yang paling luar biasa dalam pencobaan itu mereka meragukan kehadiran Tuhan, meragukan tentang kuasa Tuha.
Iintinya mereka kehilangan iman mereka. Jadi kata Jangan Mencoa Tuhan Allahmu memiliki latar belakang orang Israel yang kehilangan iman karena mereka merahukan kemampuan Tuhan dan bahwa sesungguhnya Allah itu ada dan nyata.
      Mereka tidak lagi percaya bahwa Tuhan sanggup menolong mereka. Bukankah ini yang terjadi saat ini khusus dalam kehiduapan orang Kristen, waktu kita susah kita bertengkar dan koplain dengan Tuhan, bahkan kita meragukan kesanggupan kehadiran dan kuasa Tuhan, dengan bertanya “mungkinkah ada Tuhan”.
      Bukankkah ini yang terjadi di Negara eropa, mereka bertanya kalau memang Allah ada mengapa kejahatan merajalela, kalau Allah ada mengapa pemerkosaan, ketidak adilan, dsb masih ada, mengapa ada orang miskin dan orang kaya. Karena itu mereka menarik kesimpulan Allah tidak ada, karena Allah tidak ada maka Allah bukan saja dianggap sebagai sebuah bualan tetapi, Allah juga harus diabaukan

IV.         MELAHIRKAN IBADAH YANG SEJATI YAKNI PENYEMBAHAN YANG SEJATI (bnd Ulangan 6:16, Keluaran 17:1-7, khusus ayat 7)


8  Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,
9  dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu,  
10  Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"

Sebenarnya apa yang mendorong kita untuk menyebmah dan berbakti, hanya semata oleh karena ada berkat, harta dll, bagi Yesus mending tidak ada harta tapi focusnya jelas hanya kepada Tuhan, yang kedua penyembahannya jelas tidiak didorong oleh hal daging tetapi karena cintanya kepada Tuhan.
 Sekali lagi waktu Yesus dicoba atau diuji dalam pencobaan ini, Dia berkata : Hanya Kepada Allah saja kamu harus menyembah. Tidak ada Allah yang lain yang harus disembah dan kepadanya kita berbakti.
Dalam banyak perkara orang Kristen kehilangan moment kehidupan ibadah dan penyembahan yang sejati. Waktu Yesus diuji, Dia diiming-iming harta, untuk bias menyembah setan. Dan yang luar biasa adalah sekalipun dia dikasih harta hatinya hanya terpaut kepada Allah saja.
Demikan dasar kita menyembah bukan karena supaya kaya. Bukankah orang meninggalkan ibadah dan penyembahan hanya karena takut kehlangan harta
Hal yang berikut harta atau jian tidak boleh menghilang Tuhan dari kehidupan kita. Kita semua butuh harta, tetapi yang paling penting untuk dingat adalah harta tidak boleh mebuat kita
A.     Beralih Fokus kita dari Allah Kepada Harta
B.    Haarta tifak boleh menjadi ukuran pneyembahan kita
Sebab ada orang merasa bias menyembah kalau hidupnya aman man saja, dan ketika harta habis dan lenyap, maka lenya pula ibadah dan penyembahannya.
            Bukankah harusnya terbalik apapun yang terjadi maka Allah tidak boleh hilang dari hidup kita dan peneembahan serta cinta kitapun harusnya tidak penah hilang dalam kehidupan kita.

V.                KESIMPULAN : setiap ujian kehidupan harusya melahirkan sebuah kehidupan rohani yang dewasa dan melahirkan kehidupan rohani yang terus bertumbuh dalam Tuhan. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar